Teknologi material membuka fungsi baru bagi bambu. Melalui rekayasa struktur dan sifat optiknya, bambu dapat dikembangkan menjadi material yang bukan hanya menopang bangunan, tetapi juga membantu mengurangi panas yang diterima permukaan.
Konsep ini dikenal sebagai passive daytime radiative cooling atau pendinginan radiatif pasif pada siang hari. Material dirancang untuk memantulkan sebanyak mungkin energi Matahari sekaligus memancarkan panasnya ke lingkungan dalam bentuk radiasi inframerah.
Tidak Membutuhkan Kompresor
Berbeda dengan AC, material pendingin pasif tidak menggunakan kompresor untuk memindahkan panas.
Permukaan bangunan sendiri yang direkayasa agar mempunyai karakter optik tertentu.
Secara sederhana, mekanismenya dapat digambarkan:
SINAR MATAHARI → DIPANTULKAN → PANAS BANGUNAN BERKURANG → PANAS DIPANCARKAN KELUAR
Karena prosesnya pasif, material tidak membutuhkan suplai listrik khusus untuk menghasilkan efek pendinginan.
Tetap Memiliki Kekuatan Tinggi
Hal yang menarik adalah fungsi pendinginan tersebut dikombinasikan dengan karakter struktural.
Salah satu penelitian tentang cooling bamboo melaporkan kekuatan mekanis sekitar 270,1 MPa, menunjukkan bahwa pengembangan fungsi termal tidak harus membuat material menjadi sangat rapuh.
Ini penting karena material bangunan idealnya tidak hanya mempunyai satu fungsi.
Bayangkan sebuah panel yang dapat menjadi bagian bangunan sekaligus membantu mengendalikan temperatur permukaan.
Bambu Alami Diubah di Tingkat Mikrostruktur
Bambu mentah tentu tidak otomatis bekerja seperti pendingin.
Peneliti melakukan rekayasa terhadap struktur material sehingga karakter interaksinya dengan cahaya berubah.
Pendekatan semacam ini menjadi bagian dari bidang yang lebih luas mengenai multifunctional bamboo materials, yaitu mengubah sumber daya bambu menjadi material bernilai tinggi dengan fungsi struktural, termal, optik ataupun lainnya.
Potensi untuk Atap dan Dinding
Apabila teknologi tersebut nantinya dapat diproduksi secara ekonomis dan memenuhi standar konstruksi, salah satu penggunaan yang menarik adalah bagian bangunan yang banyak terkena Matahari.
Atap dan fasad merupakan kandidat yang jelas.
Semakin sedikit energi Matahari yang diserap permukaan, semakin kecil beban panas yang harus ditangani sistem pendingin di dalam bangunan.
Namun, performa sebenarnya tetap bergantung pada desain material, iklim, kelembapan, pemasangan dan karakter bangunan.
Bukan Pengganti AC Secara Otomatis
Istilah “bambu pendingin” tidak berarti sebuah ruangan langsung menjadi sedingin ruangan ber-AC.
Pendinginan radiatif pasif lebih tepat dipandang sebagai teknologi untuk mengurangi penyerapan dan akumulasi panas.
Dalam bangunan nyata, teknologi ini dapat dikombinasikan dengan ventilasi alami, insulasi dan sistem pendingin lainnya.
Manfaat besarnya justru berpotensi datang dari berkurangnya energi yang diperlukan untuk mempertahankan temperatur nyaman.
Bambu Berubah Menjadi Material Multifungsi
Perkembangan riset menunjukkan bahwa fungsi bambu kini jauh melampaui batang untuk konstruksi tradisional. Tinjauan penelitian terbaru membahas bagaimana bambu dapat direkayasa menjadi berbagai material fungsional bernilai tinggi.
Setelah sebelumnya kita bahas bambu menjadi plastik, balok struktural dan generator hidrovoltaik, kali ini idenya berbeda: bangunan dapat menggunakan bambu sebagai bagian dari sistem pengelolaan panasnya.
