China – Jauh sebelum manusia mengenal buku kertas, masyarakat China menuliskan informasi pada bilah-bilah bambu dan kayu yang kemudian diikat menjadi satu.
Benda sederhana tersebut menyimpan catatan mengenai pemerintahan, hukum, ekonomi, militer, pemikiran hingga kehidupan masyarakat pada masa China kuno. Kini ribuan manuskrip tersebut mendapatkan perangkat referensi baru untuk membantu ilmuwan membacanya.
Kamus Pertama di Dunia
Shanghai Lexicographical Publishing House menerbitkan Dictionary of Bamboo and Silk Manuscript Studies, yang disebut sebagai kamus berskala besar pertama di dunia yang secara sistematis membahas bidang penelitian manuskrip bambu dan sutra.
Penyusunannya melibatkan lebih dari 60 pakar.
Isinya mencapai:
9.000+ ENTRI → 600+ ILUSTRASI → ARTEFAK → TULISAN KUNO → SEJARAH → METODE KONSERVASI
Kenapa Orang Dulu Menulis di Bambu?
Sebelum penggunaan kertas meluas, bambu dan kayu merupakan media tulis penting di China.
Batang bambu diproses menjadi bilah panjang dan tipis. Karakter kemudian dituliskan pada permukaannya.
Beberapa bilah dapat diikat menjadi satu sehingga membentuk sebuah dokumen.
Secara sederhana:
BAMBU → DIPOTONG → DIBUAT BILAH → DITULISI → DIIKAT → JADI “BUKU”
Ada Dokumen Berusia Lebih dari 2.000 Tahun
Nilai benda tersebut bukan terletak pada bambunya saja.
Tulisan yang masih dapat dibaca memberikan akses langsung menuju informasi dari masyarakat kuno.
Sejumlah penemuan penting yang menjadi bagian bidang penelitian ini mencakup manuskrip bambu dari Tsinghua University, Yuelu Academy dan Shanghai Museum, serta manuskrip sutra Mawangdui.
Satu Karakter Bisa Mengubah Sejarah
Membaca manuskrip bambu kuno tidak semudah membaca tulisan China modern.
Bentuk karakter dapat berbeda, bilah dapat patah, urutannya bisa berubah dan sebagian teks mungkin hilang.
Karena itulah kamus baru tersebut penting.
Peneliti dapat membandingkan:
BENTUK HURUF → ASAL ARTEFAK → PERIODE → MAKNA → KONTEKS SEJARAH
Jepang dan Korea Juga Ikut Masuk
Kamus tersebut tidak hanya merangkum penelitian dari China.
Menurut penerbitnya, karya ilmiah dari peneliti Jepang dan Korea Selatan turut dimasukkan sehingga referensinya mencakup perkembangan penelitian internasional.
Tujuannya adalah membuat terminologi penelitian lebih terstandarisasi dan membantu generasi peneliti berikutnya.
Bambu Menyimpan Data Sebelum Era Digital
Kalau sekarang manusia menyimpan informasi menggunakan:
SSD → CLOUD → DATA CENTER
ribuan tahun lalu konsep dasarnya tetap sama:
INFORMASI → MEDIA PENYIMPANAN → DIARSIPKAN → DIBACA GENERASI BERIKUTNYA
Hanya medianya yang berbeda.
Bilah bambu menjadi salah satu “media penyimpanan” terpenting sebelum kertas digunakan secara luas.
Dan lebih dari dua milenium kemudian, tulisan pada potongan tanaman tersebut masih membantu manusia memahami politik, hukum, ekonomi, teknologi dan kehidupan China kuno.
