China – Pengembangan plastik berbasis bambu menarik perhatian setelah peneliti berhasil merekayasa selulosa bambu menjadi material dengan karakter mekanis yang kuat sekaligus dapat terurai secara biologis.
Material tersebut dikembangkan untuk mengatasi kelemahan yang sering ditemukan pada bioplastik, khususnya soal kekuatan, ketahanan panas dan kemampuan dibentuk menjadi produk kompleks.
Kekuatan Tariknya Mencapai 110 MPa
Salah satu angka paling menarik adalah kekuatan tarik material.
Menurut laporan mengenai penelitian tersebut, material berbasis selulosa bambu mencapai tensile strength sekitar 110 MPa.
Ini menunjukkan bahwa bambu tidak hanya berpotensi digunakan dalam bentuk batang, papan atau serat.
Struktur selulosanya dapat direkayasa menjadi material baru yang mempunyai karakter menyerupai plastik teknik.
Bambu Diubah Sampai Tidak Terlihat Seperti Bambu
Prosesnya jauh berbeda dari sekadar menghancurkan batang bambu lalu mencetaknya.
Peneliti menggunakan perlakuan kimia untuk mengubah struktur ikatan pada selulosa bambu. Tahapan selanjutnya menghasilkan struktur molekuler yang lebih rapat dan memberikan material tersebut karakter mekanis yang lebih baik.
Hasil akhirnya dapat dibentuk menjadi struktur tiga dimensi yang kompleks.
Jadi, produk akhirnya tidak harus mempunyai tekstur kayu ataupun tampilan seperti batang bambu.
Bisa Terurai dalam Tanah
Bagian yang paling menarik dari perspektif lingkungan adalah kemampuan biodegradasinya.
Dalam pengujian yang dilaporkan, material tersebut dapat terurai sepenuhnya di tanah dalam sekitar 50 hari.
Karakter ini sangat berbeda dengan banyak plastik konvensional yang dapat bertahan dalam lingkungan selama periode sangat panjang.
Namun, kemampuan biodegradasi dalam kondisi pengujian tetap perlu dibedakan dari perilaku produk komersial di berbagai kondisi lingkungan nyata.
Bisa Didaur Ulang
Material tersebut juga dirancang agar dapat diproses kembali.
Setelah proses daur ulang, material dilaporkan masih mempertahankan sekitar 90% kekuatan awalnya.
Kombinasi daur ulang dan biodegradasi menjadi menarik karena dua strategi tersebut dapat mempunyai fungsi berbeda.
Produk idealnya digunakan selama mungkin dan didaur ulang terlebih dahulu. Kemampuan terurai dapat menjadi keuntungan tambahan ketika material akhirnya mencapai akhir masa pakai.
Tahan Panas Jadi Keunggulan Penting
Banyak material berbasis biomassa mempunyai kelemahan ketika terkena temperatur tinggi.
Penelitian terbaru berusaha mengatasi masalah tersebut dengan menghasilkan struktur selulosa yang lebih stabil.
Jika karakteristik ini dapat dipertahankan pada produksi skala industri, bambu berpotensi digunakan untuk membuat barang yang selama ini membutuhkan plastik dengan performa lebih tinggi.
Masih Ada Masalah Harga
Teknologinya belum otomatis siap menggantikan plastik konvensional.
Biaya produksi material tersebut diperkirakan sekitar US$2.302 per ton.
Skalabilitas produksi, penggunaan bahan kimia, konsumsi energi dan kemampuan mempertahankan performa dalam produksi massal juga perlu diperhitungkan sebelum dampak lingkungan sebenarnya dapat ditentukan.
Dari Batang Bambu Menjadi Material Masa Depan
Penelitian ini memperlihatkan perubahan cara manusia memanfaatkan bambu.
Tanaman yang selama berabad-abad digunakan untuk rumah, furnitur dan kerajinan kini dapat dipecah sampai tingkat selulosa kemudian disusun kembali menjadi material rekayasa berperforma tinggi.
Jika teknologi tersebut berhasil dikembangkan secara ekonomis, plastik berbasis bambu berpotensi menjadi salah satu alternatif untuk aplikasi yang membutuhkan material kuat sekaligus mempunyai jalur akhir masa pakai yang lebih ramah lingkungan.
