Karyainovatif.id — Bambu kembali menunjukkan potensinya sebagai komoditas ekonomi kreatif bernilai tinggi. Dari Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, kerajinan iratan bambu berhasil dikembangkan menjadi produk modern dan bahkan menembus pasar Singapura.
Kisah tersebut datang dari Omah Pring Perkakas Rumah, usaha milik Heri Sutrisno yang mengolah bambu menjadi kap lampu, piring, mangkuk, hingga furnitur. Produk yang awalnya berangkat dari tradisi pembuatan alat rumah tangga kini berkembang menjadi kerajinan bernilai estetika dan memiliki pasar mancanegara.
Dari Tradisi Keluarga Menjadi Produk Bernilai Ekonomi
Usaha Omah Pring berawal dari kepedulian Heri terhadap tradisi pembuatan tampah yang mulai kehilangan penerus pada 2017.
Setahun kemudian, Heri berkolaborasi dengan program pengabdian masyarakat Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari proses tersebut, ia kemudian mengembangkan berbagai eksperimen menggunakan iratan bambu.
Salah satu inovasi yang menjadi unggulan adalah teknik coiling atau pilin. Teknik tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan kap lampu dengan desain yang lebih modern.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa bambu tidak harus selalu diposisikan sebagai material untuk produk tradisional. Dengan desain dan teknik yang tepat, bambu dapat diubah menjadi produk dekorasi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Kap Lampu Bambu Jadi Produk Andalan
Kap lampu menjadi salah satu produk yang paling diminati dari Omah Pring.
Permintaan dari Bali disebut mencapai sekitar 100 hingga 150 unit kap lampu per bulan. Produk tersebut juga telah dipasarkan ke Yogyakarta dan sejumlah daerah lainnya.
Tidak berhenti di pasar domestik, produk Omah Pring juga berhasil dikirim ke Singapura. Pada 2026, terdapat pengiriman sebanyak 19 unit yang terdiri dari produk piring dan kap lampu.
Pencapaian ini menjadi contoh bahwa kerajinan berbasis bahan lokal masih memiliki peluang untuk masuk pasar internasional ketika dikembangkan dengan desain yang sesuai kebutuhan konsumen.
Proses Produksi Membutuhkan Ketelitian
Mengolah iratan bambu menjadi produk dekoratif bukan pekerjaan sederhana.
Bambu apus yang digunakan harus melalui proses pengolahan sebelum dianyam atau dibentuk. Salah satu tahapnya adalah perendaman menggunakan air garam selama sekitar 12 jam, kemudian bambu dijemur sebelum masuk ke proses perangkaian.
Untuk produk tertentu, iratan bambu kemudian diproses menggunakan teknik pilin dan lem khusus. Setelah bentuk selesai, produk menjalani tahap pendempulan dan finishing.
Proses panjang tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah produk bambu bukan hanya berasal dari bahan bakunya, tetapi juga dari keterampilan, desain, teknik produksi, dan kualitas pengerjaan.
Bambu Indonesia Punya Potensi Besar
Cerita dari Borobudur bukan satu-satunya bukti potensi industri bambu Indonesia.
Kementerian Perindustrian menyebut bambu sebagai salah satu bahan baku lokal yang memiliki prospek besar karena cepat tumbuh, relatif mudah ditemukan, dan dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah. Indonesia juga memiliki 162 jenis bambu dengan luas kebun yang disebut mencapai sekitar 2,4 juta hektare.
Kemenperin pada 2026 bahkan memperkuat pengembangan sentra IKM kerajinan berbasis bambu, termasuk melalui pelatihan desain produk, teknik pengawetan, dan pengemasan modern.
Langkah tersebut penting karena pasar saat ini tidak hanya melihat fungsi produk. Desain, estetika, inovasi, kualitas, dan kemasan juga menjadi faktor yang menentukan daya saing.
Ekspor Industri Kerajinan Indonesia Terus Tumbuh
Peluang produk bambu semakin besar ketika melihat perkembangan industri kerajinan nasional.
Data yang dikutip RRI dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai ekspor industri kerajinan Indonesia mencapai USD909,95 juta pada triwulan II 2026, meningkat 6,54 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut memberikan gambaran bahwa produk kriya Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang di pasar internasional.
Bambu dapat menjadi salah satu bagian dari peluang tersebut, khususnya karena material ini memiliki karakter alami yang semakin relevan dengan tren desain interior dan produk berkelanjutan.
Tantangan Besarnya Ada di Regenerasi Perajin
Di balik peluang ekspor, industri bambu juga menghadapi persoalan serius.
Salah satunya adalah regenerasi perajin. Sejumlah sentra bambu di Yogyakarta masih menghadapi tantangan untuk mempertahankan keterampilan menganyam agar tidak hilang bersama generasi sebelumnya.
Di Dusun Brajan, Sleman, misalnya, sekitar 90 persen warga disebut menggantungkan hidup sebagai perajin dan menghasilkan lebih dari 200 jenis produk anyaman. Produk mereka bahkan telah menjangkau Malaysia, Belanda, Australia, dan Dubai. Namun, regenerasi perajin tetap menjadi salah satu tantangan keberlanjutan.
Artinya, pengembangan pasar harus berjalan bersamaan dengan upaya menjaga keterampilan tradisional.
Digitalisasi Buka Jalan Baru bagi Produk Bambu
Pemasaran digital juga menjadi faktor penting untuk memperluas pasar kerajinan bambu.
Pemerintah Kabupaten Bantul pada September 2026 menggelar pelatihan pemasaran online bagi Sentra IKM Bambu Sumber Rejeki di Muntuk. Pelatihan tersebut mencakup pembuatan konten promosi, media sosial, marketplace, WhatsApp Business, hingga strategi memahami perilaku konsumen digital.
Pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagi sentra bambu lainnya. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di daerah asal kini memiliki kesempatan untuk ditemukan konsumen dari berbagai wilayah, bahkan luar negeri.
Anyaman Bambu Muntuk Juga Dibidik Jadi Produk Berindikasi Geografis
Potensi bambu semakin mendapatkan perhatian melalui upaya perlindungan kekayaan intelektual.
Kementerian Perindustrian tengah membahas potensi Indikasi Geografis (IG) Anyaman Bambu Muntuk di Bantul. Produk tersebut dinilai memiliki reputasi nasional dan telah mampu menembus pasar internasional.
Perlindungan IG diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing, sekaligus memberikan manfaat ekonomi lebih besar kepada para perajin.
Kemenperin juga menyiapkan pendampingan untuk penyusunan Dokumen Deskripsi sebagai salah satu persyaratan pengajuan pendaftaran IG.
Bambu Bisa Jadi Masa Depan Ekonomi Kreatif
Cerita Omah Pring di Borobudur memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat memiliki nilai ekonomi tinggi ketika dipadukan dengan kreativitas.
Bambu tidak lagi sekadar bahan untuk tampah, besek atau peralatan tradisional. Dengan inovasi desain, teknik produksi, pemasaran digital, dan akses ekspor, bambu dapat berubah menjadi produk interior, furnitur, dekorasi, hingga karya bernilai seni.
Tantangannya adalah menjaga pasokan bahan baku, meningkatkan kualitas, menciptakan desain baru, memperkuat branding, dan memastikan regenerasi perajin tetap berjalan.
Kesimpulan
Kerajinan bambu Borobudur berhasil membuktikan bahwa produk tradisional bisa masuk pasar global. Melalui inovasi teknik dan desain, iratan bambu diolah menjadi produk modern seperti kap lampu dan furnitur yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Di tengah pertumbuhan industri kerajinan Indonesia, bambu memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu material unggulan ekonomi kreatif. Jika inovasi, digitalisasi, perlindungan kekayaan intelektual, dan regenerasi perajin dapat berjalan bersama, bambu lokal berpeluang semakin kuat menembus pasar dunia.
